Sejarah 0
Sejarah 1
Sejarah 2
Sejarah 3

Sejarah Kami

Awal Tapak Katolik di Baturetno

Awal mula Gereja di Baturetno dirintis oleh Ny. Bernadette Swie Tjin Hong pada tahun 1929 melalui permandian oleh Rama Van Koch, S.J. dari Gereja Purbayan Surakarta. Setelah dipermandikan Mak Hong (panggilan akrab Ny. Swie Tjin Hong) beliau mempunyai misi untuk mewartakan iman kristiani di Baturetno, rumah Mak Hong pun menjadi tempat belajar agama Katolik dan tempat singgah para Pastor yang berkunjung ke Baturetno. Pada tahun 1930 didirikanlah Maleische Chinese School, sekolah untuk orang-orang Cina dan Melayu. Tahun 1938 misi pewartaan Mak Hong menghasilkan buah dengan dipermandikannya sekitar 30 orang oleh Rama Scott, S.J. di Ngrejo Tirtomoyo.

 

Awal Gereja Katolik di Baturetno

Pada tanggal 16 Oktober 1938 Mgr. P.J. Willekens berkenan memberkati gereja Baturetno. Namun 2 tahun kemudian ditinggalkan oleh para pengasuhnya. Tanggal 1 Agustus 1940 Bapak Y.B. Soewardi dikirim ke Baturetno. Kedatangannya disertai oleh guru misi untuk mengganti tugas para guru misi yang meninggalkan Baturetno. Satgas guru tersebut berasal dari putra daerah yang diangkat walaupun mereka tidak mempunyai wewenang untuk menjadi guru dan berjuang untuk mengembangkan umat di Baturetno melalui jalur pendidikan . 

 

Perkembangan Gereja Selanjutnya

Pada awal kemerdekaan, Baturetno terbagi menjadi tiga wilayah pengembangan umat: sektor selatan (Danan) oleh Y.B. Soewardi; sektor utara (Polaman, Gebang, dan sekitarnya) oleh Yohanes Martapawira dan kawan-kawan; sektor tengah oleh R.F.J. Dirdjasumarta. Pengembangan umat didampingi oleh rama-rama dari Paroki Purbayan Surakarta.

 

Tahun 1950 terjadi krisis sosial dan ekonomi   akibat perang. Kondisi ini mendapat perhatian dari Rama Tjakrawardaya, Pr dan Rama Dibjawahjana, S.J. dari Purbayan melalui karya pendidikan dan pemenuhan pangan di wilayah Baturetno.

 

Mulai tahun 1956 Rama A.P. Poerwadihardja, Pr menetap di Baturetno melayani umat di seluruh Kabupaten Wonogiri. Selain tugas pokok ini juga bertugas memperhatikan umat di Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar. Sejak masa itu Gereja Baturetno mulai tampak perkembangannya. Pada tahun 1961 Rama A.P. Poerwadihardja, Pr diganti oleh Rama J. Harsasusanta, Pr dan tahun 1962 Rama Th. Poesposoeganda, Pr sekaligus sebagai pemimpin Yayasan Kanisius Cabang Baturetno.

 

Pada tahun 1968 para tokoh awam mendirikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Santo Thomas di Baturetno dan kelas filial (kelas jauh) di Kecamatan Tirtomoyo yang lulusannya menjadi pendukung perkembangan umat di Tirtomoyo. Namun pada tahun 1974 SPG itu ditutup, karena surplus lulusan.

 

Untuk pelayanan medis, Ikatan Paramedis Pancasila merintis mendirikan Balai Pengobatan Pancasila pada tahun 1968, yang dalam perkembangannya menjadi Balai Pengobatan Ibu dan Anak Pancasila (BKIA) yang dikelola paroki dan diteruskan oleh Para suster Ordo Fransiscanes Pringsewu Lampung dan yang sekarang diganti dengan FSGM, sejak 17 Juli 1985. 

 

Pada tahun 1968, Stasi Wonogiri berdiri menjadi paroki, sehingga Pastor dan Dewan Paroki St. Yusup Baturetno dapat bekerja lebih efektif. Tugas pastoral dan pelayanan umat Paroki St Yusup Baturetno dibantu oleh para suster OSU yang datang di Baturetno. Karya para suster tersebut sangat dirasakan oleh umat bahkan selain umat katolik.

 

Pada tahun 1972, Rama Th. Poesposoeganda, Pr. diganti oleh Rama Ant. Wignyamartaya Pr. dan menitikberatkan pada Gereja Mandiri. Beliau digantikan oleh Rama E. Roesgiarto, Pr. pada bulan Agustus 1978. Pada tanggal 10 Januari 1980 Rama E. Roesgiarto diganti oleh Rama Y. Stormmesand, S.J. Antara tahun 1980-1994 pembangunan fisik gereja berlangsung setahap demi setahap, yang menyangkut 13 kapel dan 2 gereja, yaitu gereja Santo Yusup Baturetno dan gereja (stasi) Santo Ignatius Danan Giriwoyo.

 

Sampai dengan tahun 1994, terjadi jumlah pengembangnan umat yang menggembirakan. Perkembangan yang menonjol terjadi di Danan dan Jepurun. Karena perkembangan umat yang cukup pesat di Danan, Danan dirintis untuk menjadi Paroki. Dan tanggal 1 April 1997 menjadi Paroki Administratif St. Ignatius Danan.

 

Pada tahun 1998 Rama Y. Wartaya, S.J. mendapat tugas perutusan untuk menjadi Pastor Kepala Paroki Baturetno. Untuk menyatukan semangat dan paham, dirumuskanlah bersama, visi, misi dan strategi Paroki St. Yusup Baturetno oleh wakil umat Paroki Baturetno. Untuk merealisasikan hal tersebut maka diadakan pemekaran wilayah pelayanan sambil menyempurnakan istilah stasi menjadi wilayah dan kring menjadi lingkungan. Adapun pemekaran tersebut dimulai pada saat pelepasan Stasi Danan sebagai paroki tersendiri, dari  6  stasi (Baturetno, Jamprit, Boto, Kedungrejo, Ngadiroyo, dan Tirtomoyo ) dan 28 kring  dimekarkan menjadi 7 stasi yaitu (Baturetno, Pathuk, Janprit, Boto, Kedungrejo, Ngadiroyo, dan Tirtomoyo) dan 34 kring.   Seiring dengan pemekaran lanjutan menjadi 9 stasi, terjadi perubahan isitilah stasi diganti menjadi wilayah dan istilah kring diganti menjadi lingkungan.  9 wilayah tersebut  adalah  Baturetno Selatan, Baturetno Utara, Patuk, Jamprit, Selopuro, Boto, Kedungrejo, Ngadiroyo, dan Tirtomoyo, dan lingkungan terdiri dari 38 lingkungan. 

 

Tahun 2003 Rama  F. Yuswar Riyana, S.J. hadir melanjutkan pengggembalaan Rama  Y. Wartaya, S.J. sebagai pastor paroki didampingi Rama F.X. Widoyoko, S.J. Kedua pastor ini mulai merintis rehap fisik gereja yang meliputi pembenahan gedung sekretariat, halaman gereja dan fisik utama gedung gereja mulai bagian atap, lantai tempat duduk umat sampai sanitasi lingkungan maupun pagar gereja. 

 

Tahun 2009 Rama  Justinus Muji Santara, S.J. hadir menggantikan Rama  Franciscus Xaverius Widoyoko, S.J. Rintisan renovasi segera direalisasi secara bertahap mulai dari pembenahan sekretariat, atap gedung gereja dengan fokus penggantian genting gereja, bagian lantai mengganti keramik, cat tembok, mebel sampai pada sanitasi lingkungan gereja.

 

Program besar yang juga dikawal oleh penggembalaan Rama  Justinus Muji Santara, S.J. adalah pendataan umat pada awal 2011 yang hasil akhirnya berupa buku Profil Paroki 2012 dan program ekologi dengan tagline “Nandur Banyu lan Hawa Seger’’. Selama masa tersebut rencana  program renovasi pastoran dan gedung pertemuan belum dapat dilanjutkan, karena fokus pastoral adalah membangkitkan semangat umat untuk melakukan reboisasi di wilayah Paroki Baturetno bekerjasama dengan masyarakat setempat. Beberapa tempat yan gersang dan gundul melalui kerja bakti umat bersama masyarakat ditanami bibit pohon yang dapat menghasilkan air. Kegiatan ini masih berlanjut sampai sekarang. Rama Justinus Muji Santara, S.J. dalam karyanya didampingi oleh Rama Nicolaus Devianto Fajar Trinugroho, S.J. dan Rama Florentinus Suryanto Hadi, S.J., tahun 2016 Rama Florentinus Suryanto Hadi, S.J. digantikan oleh Rama Stefanus Bagus Aris Rudiyanto, S.J..

 

Tahun 2017 dikeluarkan SK BIMAS Katolik Kementeriaan Agama Republik Indonesia tentang Penetapan Paroki sebagai Lembaga Badan Hukum Keagamaan Katolik dan pada tahun 2018 telah diselesaikan IMB untuk 12 Kapel Lingkungan/Wilayah.

 

Tahun 2020  Rama Synesius Suyitna, S.J. menggantikan penggembalaan Rama Justinus Muji Santara, S.J., sebagai Pastor Paroki. Pada masa ini program-program yang menonjol adalah penyelesaian buku P5, fokus pastoral pada bidang pendidikan dan dilanjutkannya kembali program renovasi pastoran dan gedung pertemuan umat. Buku P5 dapat diselesaikan sehingga menjadi pedoman gerak langkah kegiatan pastoral dari tingkat lingkungan, wilayah, dan paroki. Pada bidang pendidikan paroki melalui Yayasan Kasih Anak mengambil alih kewenangan administratif beberapa sekolah Kanisius yang telah dilepaskan oleh Yayasan Kanisius. Dilanjutkannya program renovasi pastoran dan ruang kegiatan umat menjadi salah satu harapan akan terpenuhinya fasilitas pastoral yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Dalam karyanya Rama Synesius Suyitna didampingi oleh Rama Imanuel Eko Anggun Sugiyono, S.J. dan digantikan oleh Rama Joannes De Britto Dwijo Atmoko, S.J. dan Rama Albertus Maria Roni Nurharyanto, S.J.

 

Per 1 Agustus 2025, Rama Eduardus Didik Cahyono, S.J. menggantikan penggembalaan Rama Synesius Suyitna, S.J. sebagai Pastor Paroki. Rama Eduardus Didik Cahyono, S.J., didampingi oleh Rama Joannes De Britto Dwijo Atmoko, S.J. dan Rama Albertus Maria Roni Nurharyanto, S.J.

 

Saat ini Paroki St. Yusup Baturetno terdiri dari 9 Wilayah dimana terdapat 38 Lingkungan, 1 Gereja Pusat, dan 13 Kapel Lingkungan/Wilayah.

Baca Selengkapnya